PENGORBANAN
Pagi itu di sebuah desa di Yogyakarta kedua orang tua ku sedang cemas menunggu kedatangan buah hati yang sudah didambakan sejak lama , bidan berkata bahwa hari itu akan menjadi hari lahirnya bayi tersebut. Saat menjelang siang ibu ku sudah mulai mendapati kontraksi dan ayahku segera memanggil bidan ke rumah untuk membantu persalinan.
9 November 1785 di siang hari aku lahir dengan sehat dan tidak kekurangan satupun.2 hari setelah aku lahir ternyata ada kabar bahwa seorang anak dari Sultan Hamengkubowono III lahir. Yang kelak bakal aku ketahui bahwa ia adalah seorang pahlawan nasional dari tanah jawa yang gagah berani mengusir penjajah
Seperti anak yang lainnya aku pun suka bermain dengan kawan kawan sebayaku entah itu bermain sepakbola ataupun hanya sekedar kejar kejaran tak ada beban pikiran yang menggangu.
Aku terlahir di keluarga yang cukup , aku masih dapat mengenyam bangku pendidikan yang kala itu hanya segelintir orang orang yang cukup beruntung untuk bisa sekolah. Dikarenakan banyak orang yang tidak punya akses jikalau punya pun tidak bisa sembarang orang bisa masuk ke sekolah jadi aku tergolong orang yang cukup beruntung.
Tak luput aku pun ikut dalam pendidikan agama dasar seperti membaca al quran dan mempelajari kisah kisah nabi dan rasul , karena kebetulan lagi di dekat rumahku ada mushola yang cukup nyaman.
Begitulah masa kecilku sebagian besar hanya dihabiskan waktu untuk bermain dan kadang membantu orang tua ku melakukan pekerjaan rumah.
Saat aku berusia 7 tahun di desaku kedatangan seorang anak baru yang aku ketahui bahwa ia adalah putra dari Sultan Hamengkubowono III. Seorang anak bernama Raden Ontowiryo.
Ia tidak kelihatan seperti bangsawan lainnya ia bersikap rendah hati dan suka membantu. Aku tidak tau apa motifnya kenapa ia memilih untuk tinggal di luar keraton padahal di bayanganku keraton sudah menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali karena semua kebutuhan kita akan tercukupi disana.
Suatu hari aku pernah bertanya padanya
“Mas kenapa kok mau tinggal di desa kecil kayak gini padahal kan di keraton lebih enak semua ada dan lebih bersih juga ?”
Aku memanggilnya mas karena ia sudah lumayan dekat denganku dan juga untuk menghormatinya karena dia adalah pangeran dari keraton Yogyakarta.
Ia berpikir sebentar
“Hmm aku ingin suasana baru ajaa sebenarnya lagipula teman disini lebih banyak dari pada di keraton sana”
Raden Ontosuwiryo atau Pangeran Diponegoro tumbuh menjadi seorang anak yang cerdas tidak hanya di bidang akademis ia pun cukup mendalami ilmu agama. Mungkin karena di desaku juga cukup kental dengan agamanya.
Suatu hari di desaku terdengar desas desus tentang keterkaitan cerita Ratu adil dan pangeran kecil. Mereka mempercayai akan kebenaran ramalan itu Ramalan yang di tulis oleh Prabu Jayabaya berbunyi :
Akan datang satu masa penuh bencana. Gunung-gunung akan meletus, bumi berguncang-guncang, laut dan sungai, akan meluap. Ini akan menjadi masa penuh penderitaan. Masa kesewenang-wenangan dan ketidakpedulian. Masa orang-orang licik berkuasa, dan orang-orang baik akan tertindas. Tetapi, setelah masa yang paling berat itu, akan datang jaman baru, jaman yang penuh kemegahan dan kemuliaan. Zaman Keemasan Nusantara. Dan jaman baru itu akan datang setelah datangnya sang Ratu Adil, atau Satria Piningit.
Ya kurang lebih seperti itulah isi dari ramalan itu. Ramalan itu mulai diperbincangkan karena kedantangan seorang pangeran yang berkarakteristik baik.
Sesekali aku pernah menguping percakapan ibu ibu.
“Hei apakah kamu mempercayai ramalan tentang ratu adil ?”
“Aku sih tidak terlalu percaya dengan hal hal begitu tapi aku ingin itu terjadi, lagipula siapa pula yang tidak menginginkan itu terjadi. Kita sudah lama hidup menderita setidaknya aku berharap ramalan itu benar adanya”
“Tapi menurut mu apa mungkin sosok itu bukan seorang Ratu tapi melainkan seorang raja ?”
“Mungkin saja”
“maksudku, apa kamu tidak sadar bahwa saat ini di desa kita ada seorang pangeran kecil. Di usianya yang terbilang muda saja dia begitu rendah hati, ia mau berbaur dengan kita rakyat biasa, bahkan ia rajin menuntut ilmu agama “
Kira kira begitulah isi percakapan yang mewakilkan seluruh desa ku.
Menginjak Remaja aku masih tinggal di tempat yang sama,masih dengan kawan yang sama, dan juga masih ada Pangeran Diponegoro.
Tidak seperti kebanyakan teman- teman ku Pangeran Diponegoro nampak lebih peduli dengan kondisi negara ini ia kerap bercerita tentang bagaimana ia sangat benci terhadap penjajah.
Pajak yang tinggi, serta perubahan secara besar-besaran tatanan adat Jawa, membuat rakyat semakin menderita. Ditambah dengan kekalahan Inggris dan peralihan jajahannya kepada Belanda, membuat rakyat Jawa khususnya semakin menderita akibat kerja rodi yang dijalankan untuk membayar semua biaya perang Belanda.
Ia pun menjadi lebih geram ketika melihat belanda makin mencampuri urusan di dalam keraton yang membuatnya merasa tidak nyaman.
Berbagai peraturan tata tertib yang dibuat oleh Pemerintah Belanda menurutnya sangat merendahkan martabat raja-raja Jawa. Sikap ini juga sangat jelas memperlihatkan sifat kepemimpinan dan kepahlawanan beliau.
Sebagaimana diketahui bahwa Belanda pada setiap kesempatan selalu menggunakan politik ‘memecah-belah’-nya. Di Yogyakarta sendiri pun, Pangeran Diponegoro melihat, bahwa para bangsawan di sana sering di adu domba Belanda. Ketika kedua bangsawan yang diadu-domba saling mencurigai, tanah-tanah kerajaan pun semakin banyak diambil oleh Belanda untuk perkebunan pengusaha-pengusaha dari negeri kincir angin itu.
Pada suatu malam pangeran diponegoro mengumpulkan kerabat ,teman dekat dan juga para kyai untuk berunding . aku pun turut ikut hadir disana. Saat rapat itu atau perkumpulan dimulai Pangeran Diponegoro mulai mengutarakan mengapa ia mengumpulkan mereka di sini.
“Hai teman teman ku ,saya disini mengumpulkan kalian karena ada suatu hal yang ingin saya bicarakan. Ini mengenai Belanda , saya pribadi sudah semakin tidak kuat lagii dengan kekuasaan mereka , mereka semakin menindas kita ditanah sendiri , kita tidak bisa hanya berdiam diri saja melihat semua ini, kita harus melakukan sesuatu agar semua ini berakhir.”
Lalu aku pun memberi pendapat
“Kita semua tau kita harus melakukan sesuatu tapi kita tidak tau apa yang harus dilakukan dan juga tidak tau darimana kita harus mengawali ini darimana “
“Kita bisa melakukan sebuah perlawanan tetapi yang harus kita kumpulkan terlebih dahulu adalah dukungan dari masyarakat.” Jawabnya
Lalu di dalam diskusi tersebut satu persatu anggota memberi tanggapan dan menyampaikan idenya.
Pada akhirnya malam itu kita belum memutuskan untuk melakukan penyerangan dan masih menunggu langkah selanjutnya yang akan dilakukan oleh Belanda.
Keesokan harinya saat pangeran sedang mengajak ku berjalan jalan kita menyaksikan sebuah peristiwa yang sangat memilukan. Belanda mulai melakukan Penjarahan kepada warga sekitar dan menyuruh untuk membayar pajak sembari membawa senjata api.
“Hei! Sudah lewat dua bulan kau belum membayar pajak kepada kami atas penyewaan tanah!”
“Anak saya sakit tuan, saya harus membeli obat, uang yang kami miliki tidaklah banyak.”
“banyak alasan kamu ini, kamu pikir kami tidak membutuhkan makan apa?! Saya tidak peduli hal itu, yang penting cepatlah kau bayar.”
“Tapi tuaaan...”
“Mau alasan apa lagi hah? Kau tau kan apa akibatnya jika tidak memenuhi aturan padahal kau sendiri sudah menyetujuinya.”
Pangeran pun tidak bisa menahan emosinya dan kemudian membela.
“Cukup, sampai kapan kau akan melakukan pemerasan terhadap rakyat kecil? Apa belum puas?”
“Wah rupanya keturunan bangsawan ini mulai berani membela ya, apa maksud kau ini?”
“Aku hanya ingin membela warga dari peninadasan yang kau lakukan.”
“Jadi kau ini bersikap layak pahlawan?”
“Tidak.”
“Jangan merasa paling benar, kau sudah hidup cukup, segala ada, dan terjamin, tak usah mencampuri urusan kami jika kau ingin hidup tenang.”
“Bagaimana aku hidup tenang jika kalian terus membuat kekacauan dan menindas warga. Warga yang tertindas membutuhkan bantuan sementara aku dengan enaknya duduk santai menikmati hidup.”
“ah sudahlah, jangan banyak cakap kau. Maumu apa, selesaikan masalah ini terlebih dahulu.”
“Kalau begitu selesaikan lah di istana, omongkan dengan kepala dingin, saya tunggu nanti malam.”
Setelah itu, pangeran langsung mengajakku pergi meninggalkan lokasi kejadian. Warga hanya terdiam karena takut dan tidak berani membangkang. Namun mereka menjadi salut atas apa yang telah dilakukan pangeran atas pembelaannya terhadap warga.
Semenjak kejadian itu pihak Belanda makin membenci Pangeran diponegoro dan berencana untuk membungkamnya karena mereka tau dimasa ia akan menjadi sosok yang merepotkan bagi pihak Belanda.
Belanda dengan siasatnyaa menuduh Pangeran Diponegoro melakukan pemberontakan dan pada tanggal 20 Juli 1825 Belanda menyerang Tegal rejo dan ini juga menandai awal mulainya perang diponegoro.
Sore itu desaku terlihat nampak seperti biasanya banyak anak yang bermain di lapangan. Orang tua yang sedang menyiapkan masakan untuk keluarganya di malam hari, semuanya tampak normal kecuali pangeran , pangeran nampak gelisah.
“Mas kenapa kok kayak gelisah memangnya ada apa ?” Tanyaku padanya
“Ga tau ,ini dari tadi perasaan saya tidak enak.” Jawabnya
“oh mungkin mas kurang istirahat.” Kataku
Malam pun tiba selepas shalat isya aku pun pergi menuju rumahku . Tiba tiba terdengar teriakan orang orang.
Aku pun mencari tau apa yang sedang terjadi, ternyata Belanda melakukan penyerangan terhadap desaku.Pangeran pun memerintahkan untuk melakukan perlawanan dengan senjata yang ada, aku pun mengambil sebuah pedang yang sudah aku siapkan dan mulai melakukan perlawanan.
Satu persatu kawan dan pihak belanda pun tumbang , dengan pertarungan yang cukup sengit kita pun dapat memutar balikkan keadaan, tetapi belanda sudah membakar habis desaku. Dan pangeran memerintahkan untuk pergi ke gua selarong untuk menghindari bila ada bala bantuan dari belanda yang menyusul.
Saat tiba di gua selarong pangeran pun mulai menyuruh untuk beristirahat dan mengatur jadwal untuk berjaga jaga agar jika terjadi apa apa setidaknya ada sedikit persiapan.Keesokan harinya pangeran pun mulai mengatur strategi dan mulai menyemangati kembali pasukannya.
“kemarin kita sudah diserang, adat jawa sudah direndahkan, apakah kita tetap berpangku tangan setelah melihat itu semua?” kira-kira itu yang disampaikan oleh Pangeran dalam menyemangati para pejuang.
Aku pun memberi usulan kepada pangeran bagaimana kalau kita melakukan taktik perang gerilya dimana pasukan sering berpindah-pindah untuk menjaga agar pasukannya sulit dihancurkan pihak Belanda.
Taktik gerilya kami pertama kali dimulai seminggu sesudah penyerangan pertama belanda. Pangeran Diponegoro memerintahkan ku untuk menyerang markas kecil belanda yang terletak di selatan dari goa selarong.
Aku dan pasukan kecilku bergerak malam hari sekitar jam 1 dini hari agar saat melakukan penyerangan pihak belanda tidak terlalu menyadari dan mereka dalam kondisi yang sedang mengantuk dan tidak fokus.
Awal mulanya kami memetakan dulu para penjaga di daerah sekitar sana agar tidak terjadi hal hal yang tidak diinginkan. Setelah memetakan para penjaganya kami memulai penyerangan dengan cara melakukan pengepungan.
Karena mereka tidak sadar aku dan pasukan ku dapat dengan mudah melenyapkan mereka. Markas kecil yang kami serang tersebut ternyata berisi bahan makanan bagi para tentara tentara belanda. Jadi dapat dikatakan kami memutuskan pasokan perbekalan mereka.
Jenderal de Kock yang pagi harinya mendapat kabar dari bawahannya sangat murka karena itu merupakan salah satu markas penting yang dimiliki oleh Belanda. Jenderal de Kock pun memberi sayembara bagi siapa saja yang dapat membawa pangeran diponegoro dalam keadaan hidup kehadapannya ia akan mendapati 50.000 gulden.
Mendengar hal itu pasukan dari diponegoro dan pangeran itu sendiri bukannya takut tapi malah semakin semangat menghadapi Belanda. Dengan taktik yang sama yaitu gerilya pasukan kami dapat lebih mengungguli Belanda.
Serangan-serangan besar dari pendukung Diponegoro biasanya dilakukan pada bulan-bulan penghujan karena hujan tropis yang deras membuat gerakan pasukan Belanda terhambat. Selain itu, penyakit malaria dan disentri turut melemahkan moral dan fisik pasukan Belanda.
“Sudah berbulan-bulan, tetapi peperangan ini belum saja berakhir. Banyak pasukan yang terkena penyakit.”
“Istirahatkan mereka, badan mereka sudah terbujur lemah, jaga stamina dan fisik pasukan lainnya, jangan sampai kita lengah.” Jawab pangeran.
“Harus sampai kapan kita seperti ini mas ?”
“Tidak bisa dipastikan, yang jelas Belanda belum menyerah akan serangan kita. Mereka terus memikirkan strategi untuk mengalahkan kita.”
Kerugian besar dalam jumlah personel yang diderita Belanda membuat pasukannya berkurang drastis. Banyak prajurit yang tewas bukan karena senjata musuh tapi justru oleh keganasan alam akibat musim hujan dan wabah malaria serta kiriman bangkai-bangkai binatang. Aksi mereka pun lancar dilaksanakan.
Pertempuran berlangsung sedemikian sengitnya sehingga bila suatu wilayah dapat dikuasai pasukan Belanda pada siang hari, maka malam harinya wilayah itu sudah direbut kembali oleh pasukan pribumi,begitu pula sebaliknya. Informasi mengenai kekuatan musuh, jarak tempuh dan waktu, kondisi medan, curah hujan menjadi berita utama; karena taktik dan strategi yang jitu hanya dapat dibangun melalui penguasaan informasi.
Pada awalnya Pangeran Diponegoro yang menerapkan semua strategi perang mulai dari taktik infanteri, gerilya, perang terbuka, hingga perang spionase, berhasil memukul mundur pasukan Belanda.
Melihat hal itu Belanda yang dikomandoi oleh Jenderal de Kock mengambil keputusan untuk mengubah taktik perang mereka. De Kock mengubah siasat perang. Ia melancarkan strategi pembangunan benteng dimana-mana sebagai pos jaga mereka atau yang dikenal sebagai Benteng Stelseel. Benteng-benteng pertahanan dibangun dan dijaga terus-menerus setelah tentara Belanda berhasil menguasai daerah yang ditingalkan pasukan Diponegoro. Akibat Benteng Stelsel tersebut Pasukan Diponegoro semakin terjepit. De Kock berhasil memecah belah pasukan Diponegoro sehingga kekuatannya makin melemah.
Dengan keadaan yang seperti itu pasukan Pangeran Diponegoro semakin kesusahan untuk melakukan gerilya karena Belanda membangun banyak sekali pos pos penjagaan.
Pada suatu hari tiba2 seorang anak buah pangeran diponegoro datang dengan tergesa gesa dan mengabarkan suatu berita yang sangat buruk.
“Kabar buruk tuannn! Pimpinan spiritual kami telah tertangkap oleh Belanda. Mereka menangkapnya di daerah persawahan. Mereka mengetahui penyebaran yang kita lakukan. Seperti salah satu dari kami ada yang membocorkan tempat persembunyian kyai Mojo.” Anak buah lain nampak tergesa-gesa menghampiri pangeran.
Kyai Mojo yang dulu pernah ia temui saat ia berkunjung ke pedalaman ikut membantu bergabung bersama pasukan pangeran. Ia merupakan pimpinan spiritual yang membimbing kerohanian para pasukan agar tetap berjuang dan tidak melupakan perintah ibadah. Dialah yang memberikan dukungan motivasi kepada pasukan hingga akhirnya mempunyai semnagat yang menggebu-gebu.
Namun kini, Kyai Mojo, pimpinan sepiritual pemberontakan berhasil ditangkap. Tentunya ini memberikan kabar buruk untuk seluruh pasukan. Pimpinan yang mereka teladani tidak bisa mereka lindungi.
Tak hanya itu ada saja kabar buruknya ternyata salah satu panglima perang yaitu sentot Alibasah pun telah menyerahkan diri pada pihak Belanda. Ini membuat Pasukan Diponegoro semakin melemah.
Pada awalnya Pasukan Diponegoro masih melakukan berbagai upaya untuk melakukan penyerangan tetapi sepertinya dengan pasukan yang semakin berkurang dan kelelahan akhirnya pangeran diponegoro pun akan menyerahkan diri dengan syarat sisa anggota anggota yang telah ditangkap oleh pihak Belanda akan dilepaskan.
Akhirnya Jenderal De Kock pun menerima permintaan Pangeran Diponegoro dan mengajaknya bertemu serta berunding di Magelang.
Aku dan beberapa orang yang tersisa pun ikut mengawal Pangeran Diponegoro untuk pergi ke Magelang.
Ketika datang berunding, Belanda ternyata telah mempersiapkan tipu muslihat. Tawaran Diponegoro ditolak dan diam-diam disiapkan pasukan penyergapan dalam jumlah besar.
“Tuannn, mereka penipu! Mereka datang dengan membawa pasukan besar beserta perlengkapan senjata. Kita harus menyiapkan segala perlengkapan.”
“Tidak, tenanglah. Jika kita berbalik menyerang, akan terjadi banyak korban disini. Tidak usah dilawan, biarkan saja mereka.”
“Tapi tuan bisa ditangkap oleh mereka jika membiarkan ini terjadi.”
“Lebih baik mereka saja yang menangkapku dibandingkan aku harus mengorbankan lebih banyak pasukan.”
Pangeran Diponegoro sangat marah namun atas pertimbangan keselamatan anak buahnya memutuskan tidak melawan.
Ia akhirnya berhasil ditawan. Untuk menghilangkan pengaruh dan memutuskan komunikasi dengan pengikutnya, Pangeran Diponegoro,keluarganya,dan beberapa pasukan yang tersisa termasuk aku lalu diasingkan ke Manado.
Yang tidak aku ketahui ialah ternyata sang pangeran dipindahkan oleh belanda jauh ke Makassar. Belanda takut apabila pangeran didekatkan dengan pasukannya ia akan memberontak kembali sehingga mereka memutuskan untuk membuang jauh Pangeran Diponegoro ke Makassar.
akhirnya pada tanggal 8 Januari 1855 beliau meninggal. Jenazahnya pun dimakamkan di sana. Beliau wafat sebagai pahlawan bangsa yang tidak pernah mau menyerah pada kezaliman manusia.
Komentar
Posting Komentar